Cerita Sex Gratifikasi Donat – Part 12

Cerita Sex Gratifikasi Donat – Part 12by adminon.Cerita Sex Gratifikasi Donat – Part 12Gratifikasi Donat – Part 12 Febi menarik selimut kemudian turun dari ranjang. Tak jauh dari tempatnya tidur dokter Ilham tengah tertidur kelelahan. Sejenak Febi melirik ke arah mantan kekasihnya. Begitu tampan dia sebenarnya juga baik dan memiliki masa depan cerah. Tak ingin disakitinya lagi perasaan laki-laki yang telah mengorbankan segalanya untuknya. Raut wajah penuh kekecewaan […]

multixnxx- Hikaru Kirameki Hikaru Kirameki enjoys s-8 multixnxx- Kosaka Kosaka Asian plays with tongue ar-2 (1) multixnxx- Kosaka Kosaka Asian plays with tongue ar-2Gratifikasi Donat – Part 12

Febi menarik selimut kemudian turun dari ranjang. Tak jauh dari tempatnya tidur dokter Ilham tengah tertidur kelelahan. Sejenak Febi melirik ke arah mantan kekasihnya. Begitu tampan dia sebenarnya juga baik dan memiliki masa depan cerah. Tak ingin disakitinya lagi perasaan laki-laki yang telah mengorbankan segalanya untuknya.

Raut wajah penuh kekecewaan baru saja ditampilkan Ilham saat Febi hendak pergi. Meski hanya sekelebat namun cukup membuat nyali Sang Polwan cantik ciut. Pantaskah ia, yang datang hanya membawa penyakit, kemudian pergi begitu saja ketika mulai merasakan kesembuhan?. Febi mengurungkan niatnya. Ia lebih memilih menghambur ke pelukan dokter Ilham lalu mencurahkan curahan rasa sayang yang tersisa.

Hatinya masih menyimpan rasa sayang kepada segala kebaikan yang telah diberikan Si Dokter tampan. Jauh di dalam lubuk hatinya Febi sangat tidak ingin pergi. Untuk sesaat dia ingin menjadi seorang figur wanita sejati. Sebenar-benarnya wanita yang tinggal jauh dari dunia kekerasan kaum laki-laki dengan dominasi ego.

Namun terkadang roda nasib berkata sebaliknya. Ketika Febi menginginkan pergi, sang nasib menariknya kembali. Baru saja ponselnya berdering mengabarkan sebuah berita duka. Dua orang pembimbing terbaiknya di Detasemen Anti Korupsi dikabarkan tewas. Sebenarnya Febi belum mendapat data yang akurat. Telpon yang barusan diterimanya hanyalah rangkaian kesimpang siuran berita yang diberikan oleh orang panik.

Sheila, ada dimana kamu sekarang??, Febi menggumam dalam hati.

Rekan kepercayaannya juga turut lenyap tertelan bumi. Seandainya saja Febi bisa mendapat kabar terpercaya dari Sheila, ia tak perlu mengendap-ngendap berusaha melarikan diri dari rumah yang telah memulihkan kesehatannya.

Wajah polos Dokter Ilham yang masih tenggelam di alam mimpi membuat Febi makin merasa bersalah. Tak tega dirinya tapi juga tak punya pilihan. Betul betul serba salah. Sangat perlahan Sang Polwan cantik melangkah, setengah mengendap-ngendap, menyusuri ruang apartemen Ilham. Setibanya di pintu, Febi membatin dalam hati menyuarakan rasa terima kasihnya yang tak terkira atas segala pengorbanan Dokter Ilham kepadanya.

Aku pasti kembali kesini Mas!, Febi berkata dalam hati Dan bila saat itu tiba, aku tak akan kabur lagi, ditutupnya pintu apartemen Dokter Ilham dengan lembut kemudian ia melangkah cepat.

Seorang Perwira Polwan terlatih seperti Febi bereaksi secara berbeda. Ia bisa memilah cepat kedua reaksi natural manusia. Kesedihan dan kekhawatiran diolah oleh Febi begitu baik, mulus, dan juga tanpa perasaan. Sebentar lalu dia bersedih meninggalkan Ilham, sekarang kekhawatiran datang cepat membuatnya harus segera bereaksi.

Selamat malam Komandan ijin melaporkan,

Tanpa memperlambat langkah kakinya, Febi melakukan panggilan telpon. Seorang Perwira Tinggi Kepolisian yang juga berperan besar dalam penugasannya ke Detasmen Anti Korupsi menjadi tempat Febi memberikan laporan.

Kami mohon ijin meminta dukungan anggota untuk mengautopsi korban serta mengevakuasi anggota Detasemen Anti Korupsi yang berada disana Komandan,

Taktis. Seperti itulah Febi. Dia tak pernah basa-basi dan selalu bisa menemukan solusi cepat dari benang ruwet sebuah persoalan. Mendengar penyergapan maut ditambah lenyapnya Sheila membuat Febi sadar pentingnya bala bantuan. Bukan bantuan sembarangan, tapi bantuan yang punya kekuatan hukum.

Febi harus meminta tolong kembali ke tempat dia berasal. Untunglah ia tidak pernah menjadi kacang yang lupa kulit. Maski bertugas di Detasemen elite seperti anti Korupsi, Febi tetaplah sorang Polisi wanita sejati.

TAXI!,

Febi berteriak lantang. Sebuah unit taxi berwarna biru datang menghampiri dan Sang Polwan cantik menghambur masuk.

Tapi Komandan.., Febi merengut Kamimaksud saya Detasemen Anti Korupsi memerlukan, Kembali ia terdengar gusar Siap..

Febi menutup telpon dengan sejuta perasaan di hati. Kepalanya mulai terasa pusing namun ia harus berpikir.

Bu, mau kemana??, sopir taksi bertanya sambil menatap dari spionnya.

Febi mengangkat tangannya memberi isyarat agar supir itu menunggu. Ia mencoba solusi lain. Sebuah jalan yang ia sendiri sangat hindari.

Mas, kamu lagi dimana??, Febi menelpon lagi Aku perlu ketemu, kalo kamu gak sibuk sih sekarang Mas

Sopir taksi di depannya melihat terus ke arah Febi dari kaca spion. Laki-laki ini tau wanita cantik. Penumpang yang duduk dibelakangnya memang sangatlah mempesona. Sekarang sudah dini hari. Di saat seperti ini sering timbul niatan jahat di hati para supir taksi seperti dirinya. Apalagi bila melihat penumpang secantik Febi.

Ke Markas Komando Pak di daerah, Febi mengucapkan tujuan berikutnya dengan hambar. Dia sangat kurang nyaman mengucapkan tempat yang harus disebutnya. Sebagian dari trauma terbesarnya berasal dari sana.

Bapak sopir dilain pihak langsung surut dari niat jahatnya. Bagaimanapun tempat tujuan yang barusan disebut sang penumpang merupakan markas besar Pasukan Elite Anti Teror yang tak terkalahkan dan sanggup menciutkan nyali siapa saja.

Bab 2

Mbok Yem mengamati baik-baik lekuk tubuh wanita cantik yang terlentang dihadapannya. Begitu indah tubuhnya lengkap dengan lekukan indah di titik-titik sensual. Baru saja tadi malam, Mbok tua ini memandikan si wanita yang katanya baru saja mengalami kejadian tak mengenakkan. Pagi ini, Mbok Yem diberi tugas khusus oleh sang majikan. Bukan hanya memandikan si cantik tapi juga merawatnya .

Sebuah mangkuk menemani Mbok Yem kala memijat si cantik. Mangkuk yang dipegang mengeluarkan aroma harum hasil perpaduan ekstrak dedaunan alami. Mbok Yem adalah wanita tradisional. Ia tau benar bagaimana merawat tubuh seorang wanita secara alami. Bila boleh jujur, sebenarnya sejak semalam Mbok Yem tidak sempat beristirahat.

Sehabis memandikan wanita cantik yang akhirnya ia tau bernama Sheila, Mbok Yem harus bergegas meracik dedaunan supaya bisa cepat dapat digunakan. bagaimana pun majikannya bukanlah seorang penyabar. Tangan Si Wanita tua kini membalurkan ekstrak dedaunan ke bahu dan leher Sheila. Mengalahkan para pemijit professional, Mbok Yem membalurkan dengan teknik khusus. Perlahan namun penuh tekanan dengan kekuatan tepat.

Hmmmm

Berulang kali Sheila menggumam ketika dibalur. Wanita cantik ini bisa merasakan melalui indera penciumannya bagaimana aroma wangi yang dibalurkan begitu membius. lebih tepatnya tidak hanya membius tapi membangkitkan sebuah kekuatan lain dari dalam diri. Mbok Yem tau benar apa yang dirasakan Sheila. Si wanita tua menggunakan seluruh pengalaman hidupnya guna menjalankan tugas yang diemban kepadanya.

Sekarang Non duduk di bangku ini!, Mbok Yem menuntun Sheila menuju sebuah bangku kecil Nah sekarang angkat dulu jariknya!, Sheila mematuhi setiap perintah yang diterimanya Mbok udah siapkan tungku kecil ini buat nguapin bagian bawah Non Sheila,.

Mbok Yem membawa sebuah tungku kecil yang diatasnya mengepulkan uap segar. Diletakkannya tungku itu sedikit didepan Sheila. Dari letak duduknya sekarang, uap yang datang dari tungku mengarah tepat ke arah organ intim Sheila yang hanya tertutup sehelai jarik. Mbok Yem menata jarik Sheila sedemikian rupa sehingga, kain tersebut menaungi tungku. Uap wangi kini hanya berputar diseputaran selangkangan si cantik.

Mmmm Mbookk

Sheila terkejut. Ia merasakan tangan Mbok Yem mulai mengelus payudaranya dari arah samping. Menemani Sheila duduk, Si Mbok juga duduk tepat disebelahnya. Kedua tangan keriputnya membelai payudara kencang Sheila.

Gak apa Non! dipijet biar kenceng teteknya!, Mbok yem melakukan pemijatan dengan bebas karena Sheila sama sekali tak melakukan perlawanan.

Payudara berukuran sedang berwarna kuning langsat itu kini berwarna gelap coklat berpadu dengan ekstrak dedaunan. Tangan Mbok Yem meremas-remas payudara Sheila seperti sedang memerah susu. Si wanita tua menginginkan semua saripati tumbuhan yang dia buat bisa meresap hingga pori-pori terdalam payudara.

Wuuuuffffff, Dari bawah, tiupan angin uap terus berhembus.

Mbok Yem perlahan-lahan mulai menyentuh puting Sheila. Kedua puting tebal kini diperlakukan lebih lembut dari sebelumnya.

Uuuuuuhhh Mbbbookkk, Sheila mendesah tak tahan.

Mbok Yem sama sekali tak terganggu dengan lenguhan manja si cantik. si Tua hanya melakukan tugasnya. Puting susu bagi Mbok Yem memang bagian spesial dari tubuh seorang wanita. Bukan hanya dari luar bagian ini merupakan yang paling menggoda, namun dari dalam, puting memerlukan kelembutan khusus.

Bila saja kelembutan dapat dirasakan, wanita mana pun pasti akan jatuh ke dalam jebakan iblis kenikmatan yang tak terkira. Menggunakan kedua jari telunjuk dan jari tengah, Mbok Yem memutarkan jari tersebut searah jarum jam dan kemudian menjepitnya rapat lalu menariknya ke depan.

Aauuuuuuu, Sheila hampir terjatuh dari kursi.

Tangan Mbok Yem cekatan menahan punggungnya agar ia tidak jatuh. Jarik yang semula menahan tubuh Sheila tertarik jatuh akibat kejadian ini. Mbok Yem membiarkannya tetap di bawah. Si tua tau Sheila telah terbiasa dengan aroma wangi dan uap hangat yang datang. Perlahan dikangkangnya kedua kaki Sheila kembali, kali ini tanpa penghalang apa pun. Sheila mulai tampak sangat menikmatinya.

Sekarang angkat tangannya ya Non! Mbok mau ngerawat keteknya!, Sheila menaikkan kedua tangannya ke atas kepala membiarkan Mbok Yem menjamah kedua ketiaknya yang bebas terhampar.

BAB 3

Seorang pria berambut cepak mendatangi taxi yang parkir tak jauh dari pintu gerbang markas besarnya. Melihat wanita cantik berambut pendek yang berdiri disamping taxi membuat si pria cepak tersenyum lebar. Sekarang sudah jam setengah enam pagi. sesuai tradisi Korpsnya dia harus berlari bersama seluruh rekan-rekannya sejak sejam sebelumnya. Menerima panggilan si wanita berambut pendek membuat si cepak keluar meninggalkan aerobik lari yang tengah dilakukan.

Duduklah dulu disini Feb! jangan terlalu serius!, si cepak mengajak Febi duduk di sebuah pos kecil yang terletak tak jauh dari parkiran.

Si wanita berambut pendek tampak tak terlalu sehat. Bibirnya tampak kering. Belum lagi warna kulitnya yang pucat bagai kekurangan darah.

Kamu sakit??, si cepak menyentuh dahinya

Nggak Mas Cuma kurang tidur

Jawaban klise. Pikir si rambut cepak. Kamu pikir aku mudah dibohongi. Batinnya. Dimintanya si wanita itu menunggu sebentar kemudian dia berlari cepat masuk kembali ke dalam markas. tak lama si cepak kembali sambil berlari cepat dan menenteng tiga kaleng minuman elektrolit.

Pir minum dulu nih!, dilemparnya satu kaleng ke supir taxi. kamu juga minum!, tunjukknya pada si wanita cantik.

Si cantik menggeleng.

Febi! minum! SEKARANG!

wanita yang bernama Febi mengangguk lalu membuka minuman yang ada di tangannya dan meminum cepat.

Dia tampak gusar. Mendatangiku pasti bukanlah pilihan pertamanya. Si pria cepak membatin.

Sebenarnya apa keperluanmu datang kemari Feb?, sambil membetulkan kaos olahraganya yang kurang rapi pria itu bertanya.

Febi terdiam. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Si cepak menanti penjelasan yang akan disampaikan dengan sabar. Buat apa terburu-buru?. Pagi-pagi begini mendapat pemandangan wajah secantik Febi saja sudah membuat segala kelelahannya menghilang. Apalagi sudah seminggu terakhir si cepak harus berjibaku dengan latihan spartan yang begitu melelahkan.

Menjadi anggota tentara biasa saja sudah melelahkan. Bagaimana dengan menjadi anggota tentara pasukan anti teror??. Sering si cepak masih begidik sendiri membayangkan segala penderitaan berat yang telah dilaluinya hingga sampai mencapai posisi seperti sekarang.

Mas aku mau minta tolong.., akhirnya Febi bicara Barusan aku dapat telpon dari detasemen anti korupsi mereka mengatakan dua orang pimpinanku tewas dalam tugas..

Pria cepak mendengar dengan seksama penjelasannya.

Sekarang masalahnya kantorku tak mau memberikan bantuan, padahal.., Febi tampak gusar.

Mereka pasti tidak mau membantu karena masih terlibat konflik antar lembaga??, tak sabar Pria cepak memotong cepat.

Febi mengangkat bahunya membenarkan lalu melanjutkan ceritanya tentang kekhawatirannya terhadap perkembangan situasi beberapa jam terakhir ini.

Si cepak sempat menanyakan apakah berani seorang pelaku korupsi bertindak senekad itu dengan menyuruh anak buahnya menyerang petugas?.

Mereka bisa saja nekad Mas

Kenapa bisa??, si cepak penasaran.

Karena sekarang kami,.. maksudku detasemen anti korupsi sedang dalam posisi lemah. Menghadapi peristiwa seperti ini kami dibiarkan sendirian

Pria cepak berdiri. Dia membalik punggungnya memandang jauh ke dalam markas tempatnya biasa dilatih. Meski masih samar si cepak mulai mengetahui kemana sebenarnya pembicaraan Febi. Segala konsekuensi yang ada mulai ditimbangnya baik-baik. Pria cepak tentara professional dia tidak boleh main-main.

Aku tidak memintamu banyak Mas, Febi ikut berdiri Aku hanya minta back up! setidaknya selama tiga hari saja, sampai aku bisa mengetahui permasalahan sebenarnya

Perlahan si cepak maju mendekati Febi. Supir taksi yang sedang duduk tak jauh dari mereka terlihat mulai tertidur di dalam mobil. Mas tau apa yang kamu mau

Tolonglah Mas, akuFebi gak tau harus kemana lagi meminta back up yang kuat dalam situasi begini

Bahu Febi dipegang perlahan oleh pria yang secara fisik tampil begitu prima. lantas apa imbalanku kalo aku tolong kamu Feb??

Si cantik menatap serius. Aku bisa carikan pemasukan buat Mas dan anak buah..

Yang pasti kami perlu pemasukan! dan yang lebih penting, tangan si cepak dengan tidak sopan mendarat telak di payudara Febi yang masih tertutup pakaian aku mau ini!

Wajah Febi pucat. Tapi dia terlihat tenang karena mengetahui inilah imbalan yang pasti akan diajukan.

Gimana kamu setuju?? selama tiga hari kami ikut kamu kemana saja! tapi.., si cepak menarik alir liurnya yang seperti bisa merasakan keindahan tubuh si cantik selama seminggu kamu harus jadi milikku!, dipeganya semakin keras payudara febi yang mulai menyembul kamu setuju sayang??

Febi mengangguk pasrah.

BAB 4

Kamu Joni, antarkan semua keperluan Pak Bupati ke dalam lapas!, Juki menyerahkan satu kantong kresek kepada orangnya Kasih ini ke Beliau langsung! isinya uang! kepalamu taruhannya mengerti??, Juki menatap telak ke bola mata anak buahnya.

Beranjak dia menemui orang lainnya yang banyak berseliweran di ruang tamu.

Pak David, Juki menemui lansung driver Pak Bupati Bersama kamu Firman!, disentuhnya juga pria muda disebelahnya Saya minta tolong kepada kalian berdua memasukkan peralatan elektonik lengkap kedalam lapas! barusan Sukri sudah bisa ngelobi orang dalam lapas, kalian tinggal masukkan saja barangnya!, Juki merogoh kantung bajunya dan mengeluarkan segepok uang merah Ini buat Pak David sama buatmu Firman!

Driver Bupati mengambil cepat uang yang diberikan lalu segera mengucap beribu terima kasih. Pemandangan sebaliknya terjadi dengan Firman. Juki memperhatikan ajudan muda Bupati ini tengah terpaku memandangi lantai dua rumahnya. Sang pemilik rumah sampai harus mengikuti arah pandangan Firman guna mengetahui apakah sebenarnya yang ia lihat.

Rupanya dari lantai dua Mbok Yem baru saja keluar dari kamar mandi membawa seorang wanita cantik yang hanya berbalut handuk. Kecantikan serta kemontokan wanita di lantai dua pastilah membius Firman.

Dia keponakanku baru datang dari kampung!, Juki menyelipkan uang ke saku baju Firman.

Ehhh teriima kasih banyak Pak Juki, Firman kembali sadar terima kasih banyak

Juki tersenyum ringan dan menyuruh kedua orang terdekat Bupati itu pergi.

Tugas ringan sudah beres. Sekarang Juki melangkah ke tugas yang lebih berat. Dilangkahkan kakinya menghampiri tiga orang berwajah sangar yang sedang duduk di meja makan. Melihat Juki menghampiri, mereka bertiga serempak berdiri memberi hormat.

Duduklah!, Juki menyapa mereka hangat sembari mempersilakan duduk kembali. ceritakan kejadian semalam!

Juki mengatur duduknya senyaman mungkin di kursi meja makan. Dia perlu mendengar seluruh kisah yang baru saja terjadi langsung dari orangnya di lapangan. Bagai bos besar, satu tangan Juki menopang pipinya sambil mendengar serius.

Kami sudah mencari pelaku pembegalan sejak semalam, namun belum dapat juga Bos! ada yang bilang mereka bukan orang sini, yang paling senior diantara mereka bicara total ada tiga korban di lokasi! kata Rojali semuanya mati

Rojali yang berusia lebh muda ganti menjelaskan kejadian sebenarnya. Sebentar lagi daerah kita bakalan kedatangan banyak wartawan nasional Bos! mereka sudah dapat beritanya. Entah bagaimana tapi semalam udah ada wartawan yang ngeliput di rumah sakit

Juki menegakkan dudukknya. Dia harus berbisik memberi informasi rahasia yang harus segera dilaksanakan oleh ketiga algojonya.

Ok Bos! kita akan berusaha ngumpulin semua wartawan

Juki menepuk bahu si senior. Salah! bukan kalian yang mengumpulkan wartawan!, tangan Juki melambai, tapi, diberinya isyarat agar anak buahnya meneruskan.

Maaf Bos, maksud kami orang Pemerintah Daerah yang akan kami suruh buat ngelakuin, Rojali menimpali.

Bagus!, kembali Juki merogoh kocek. Tangannya mengeluarkan segepok uang lembaran berwarna merah dan segepok lagi berwarna biru Ini buat kalian!, tunjuknya atur baik-baik pertemuannya!

Juki sudah biasa memberi perintah lalu dipatuhi. Ketiga orang didepannya langsung berdiri meninggalkan meja makan.

Paman!, keponakannya kini datang beritanya sudah ada di teve Paman, nada panik terdengar dari bibirnya.

Juki tak menjawab apa pun. Dilangkahkan kakinya ke depan televisi. Kedua matanya menyapu tulisan besar yang berada di bawah pembawa berita. Tulisah yang dibacanya berbunyi ;

HEADLINE NEWS
ANGGOTA DETASEMEN ANTI KORUPSI TEWAS DIBEGAL.

Semua orang yang hadir depan televise bungkam membisu. Kecuali Juki. Pria politikus sejati ini tersenyum lebar. Tidak terlihat sedikit pun raut kegelisahan padanya. Dihadang berita genting di televisi nasional, hanya membuat Juki semakin menunjukkan betapa piawainya ia merangkai strategi.

Tersenyum ia berbisik ke telinga keponakannya kamu berangkat ke rumah sakit! cek baik-baik apa mereka benar-benar sudah mati!, bisiknya.

Paman tidak ikut??, si keponakan bertanya.

Juki menunda jawabannya. Dia mengitari semua orang tersisa dalam ruangan sembari memberi masing-masing tugas khusus yang harus dilakukan.

Ada hal penting yang harus kunikmati disini keponakan!, Juki menyunggingkan senyum kemenangan dan melangkahkan kakinya menaiki tangga.

Si keponakan hanya bisa menggeleng mengetahui apa yang tengah direncanakan pamannya. tak punya pilihan lain, ia pun melangkah keluar.

SUMBER KAMI DI LAPANGAN JUGA MENGKONFIRMASI, SELAIN TIGA ORANG TEWAS DALAM AKSI PEMBEGALAN, SEORANG ANGGOTA WANITA DETASEMEN ANTI KORUPSI JUGA MENGHILANG SEJAK TENGAH MALAM TADI. ANGGOTA TERSEBUT BERNAMA SHEILA YUNITA

Keponakan Juki mendengar berita itu sekilas. Dia sama sekali tak mempedulikan omong kosong berita.

Bab 5

Dion mendarat dengan selamat di tempat tujuan. Wartawan muda namun eksentrik ini memegangi dadanya selama dalam perjalanan. Rekan-rekan wartawannya sekuat tenaga mencegah Dion berangkat ke lokasi, namun tak mampu melawan kekerasan hatinya. Padahal sekian jam lalu Dion baru saja terkena serangan jantung ringan.

Untunglah seorang rekan wartawan yang sebelumnya memang sempat berkomunikasi melalui telpon mendatangi kediamannya dan menemukannya tergeletak pingsan. Rekan wartawan Dion kemudian mencoba membawanya ke rumah sakit akan tetapi di tengah perjalanan Dion sadar. Si wartawan eksentrik bukannya berterima kasih atas bantuan temannya. ia malahan memaksa mereka menyiapkan tiket penerbanagan paling pagi yang akan mengantarkannya ke kabupaten tempat perhatian masyarakat sekarang tertuju.

Kondisi fisik tak bisa dibohongi. meski Dion tampak garang menyuruh-nyuruh rekannya, ia tetaplah sakit. Bukan sakit biasa, tapi sakit kronis dengan taruhan nyawa. Bila saja bukan karena hubungan emosionalnya dengan dua orang pimpinan lapangan anti korupsi, yang dilaporkan tewas, Dion tak akan mau memaksakan dirinya. Juga, seandainya saja kasus ini tidak melibatkan kiprah seorang wanita cantik yang mampu menyentuh hatinya, Dion pasti malas bergerak.

Febi cantik. Nama wanita itu ditulisnya di telpon genggamnya. Bagaimana kabar dia sekarang?. Dion sangat mengkhawatirkan dirinya sejak Febi tertembak di jalanan beberapa hari sebelumnya. Tindakan nekadnya ketika hendak menjenguk Febi di rumah sakit membuatnya menerima bogem mentah petugas. Jangan-jangan gara-gara dipukuli aku terkena serangan jantung. Batin Dion memegangi dadanya agar setidaknya bisa membantunya bernafas.

Sulit sekali kini udara dihirupnya. rasanya Dion tinggal di luar angkasa yang hampa udara. Untunglah secercah harapan terhadap nama Febi membuat kesulitan bernafasnya sejenak terlupakan. Ditekan tombol dial agar dia bisa menghubungi Febi.

Panggilan masuk. Ponsel Febi yang semula mati kini telah aktif.

Halo Febi, Dion tergetar tak menyangka panggilannya akan dijawab apa..apa kabar..??, dalam situasi bisa bernafas normal Dion juga akan kesulitan merangkai kata saat menghadapi gadis pujaan, apalagi sekarang.

Untunglah lawan bicaranya bersikap komunikatif meski di telpon pagi-pagi. Dion sedikit merasa tenang. Aku..aku..ada di Kabupaten. baru.. saja nyampe, Dion berusaha mengatur nafas baik-baik sakit?? enggak kok, Cuma baru bangun aja tadiperjalanannya jauh, Dion berbohong.

Kembali ia memegangi dadanya. Sekarang Dion hampir tak sanggup berdiri. Dia harus duduk. Meski pun harus duduk di lantai kotor bandara.

Baiklah akuakan coba mencari Sheila..dan mengabarkan semua yang terjadi kepadamu, Dion tersenyum. Kebahagiaan mendengar suara wanita pujaan menjalari hatinya. Febi..anu aku aku senang mendengar suaramu lagi, ujarnya sebelum menutup telpon dan merebahkan dirinya terlentang di lantai. Udara begitu sulit masuk ke dalam rongga paru-parunya.

Bab 6

Pak David duluan saja! ada yang harus saya sampaikan ke Pak Juki, Firman berkilah.

Ajudan muda Pak Bupati bisa menangkap ada yang tak beres. Orang lain mungkin tak tau siapa wanita di lantai dua tadi tapi Firman tau. Meski hanya sebentar, Firman sempat melihatnya saat si wanita cantik tadi mengunjungi kantornya beberapa hari lalu.

Cewe itu anggota Detasemen Anti Korupsi. Batin Firman. Ngapain dia sama Juki? pria mata keranjang begitu. Sangat penasaran, Firman memutuskan akan melakukan aksi pengintaian diam-diam. Sebagai ajudan seorang Bupati bukan pertama kali Firman disuruh mengintai. Seandainya saja Beliau mengajakku ke ibu kota menghadiri acara itu, Pak Bupati mungkin bernasib lain. Batin Firman sambil berlari kecil menyusuri samping rumah Juki.

Rasanya sudah berulang kali Firman kesini, dia sudah hapal betul sudut-sudut rumah yang begitu besar. Para pembantu rumah termasuk Mbok Yem pada tinggal di dalam rumah. Driver Juki seharusnya menghuni ruang kecil di samping rumah namun ia sedang disuruh pergi melaksanakan tugas. Ruang ini sekarang kosong. Firman memanjat tangga yang memang berada disamping ruang.

Tangga tersebut menghubungkan ruang dengan lantai dua. Cekatan Firman memanjat tangga dan tiba di lorong tempat menjemur pakaian. Ditepikan pakaian yang masih belum diangkat oleh para pembantu. Firman terus maju penuh kehati-hatian. Dia merapat tembok yang begitu tipis dan melangkah menyamping guna bisa tiba di ruang berikutnya yang terletak persis di tempat tadi si wanita cantik dimasukkan oleh Mbok Yem.

Melompat kecil ia sekarang agar bisa memasuki pelataran lantai dua. Berguling-guling kecil Firman hingga ke tembok agar tidak ada seorang pun yang tau keberadaannya. Seperti layaknya rumah para orang kaya yang begitu besar, pastilah banyak ruang tak terpakai. Termasuk rumah Juki. Pelataran yang sekarang Firman injak memang tak pernah dijamah. Padahal pelataran ini bersebelahan langsung dengan kamar besar di lantai dua.

Deru mesin ac yang begitu kencang membuat Firman menyadari mengapa jendela kamar ini tak pernah dibuka. Ajudan muda sekarang berusaha mencari celah agar dia bisa mengintip ke dalam. Dibersihkannya tumpukan sampah di lantai. Firman mengeluarkan pisau lipat yang memang biasa dibawanya kemana-mana. Sejenak dia telusuri baik-baik bagian jendela yang bisa ia lubangi untuk mengintip.

Rupanya lubang yang ia cari segera ditemukan. Rumah mewah seperti ini memang selalu rapuh. Cepat dicolok lubang rapuh itu. Bagian yang dipilih Firman terletak sedikit di bagian paling bawah jendela. Dilubanginya cukup lebar hingga kedua lubang matanya bisa melihat pamandangan di dalam.

Author: 

Related Posts