Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 59

Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 59by adminon.Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 59Pendekar Naga Mas – Part 59 Tengah hari telah menjelang, angin utara berhembus kencang, awan tebal pun menyelimuti angkasa, membuat langit terasa gelap gulita. Para jago sarapan lebih awal, kemudian mereka pun bersemedi sambil menghimpun kekuatan. Suasana di tanah perbukitan terasa hening sekali, kecuali deru angin utara, nyaris tak terdengar suara apa pun. Tiba-tiba terdengar […]

multixnxx-Tight Lookin Asians -8 multixnxx-Tight Lookin Asians -9 multixnxx-Tight Lookin Asians -10Pendekar Naga Mas – Part 59

Tengah hari telah menjelang, angin utara berhembus kencang, awan tebal pun menyelimuti angkasa, membuat langit terasa gelap gulita.

Para jago sarapan lebih awal, kemudian mereka pun bersemedi sambil menghimpun kekuatan.
Suasana di tanah perbukitan terasa hening sekali, kecuali deru angin utara, nyaris tak terdengar suara apa pun.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa seram berkumandang dari kejauhan.
Dengan wajah serius para jago serentak berlari menuju ke tengah lapangan, tampak Ong Samkongcu berdiri di posisi tengah dan dikelilingi oleh Cau-ji, ketujuh gadis serta Ciangbunjin dari partai-partai besar.

Di sayap kiri berdiri dua ratusan jago dari berbagai aliran, sementara di sayap kanan berjajar Thian-te-sian-lu serta tiga puluh enam jago istana.
Suara pekikan makin lama semakin nyaring, sepeminuman teh kemudian terdengar suara benturan keras memekakkan telinga, tahu-tahu papan nama yang tergantung di depan pagar kayu telah hancur dan berhamburan ke mana-mana.

“Sreeeet…!”, enam sosok lelaki berdandan aneh, berwajah menyeramkan tahu-tahu sudah memasuki lapangan dengan langkah lebar, mereka berhenti lebih kurang lima tombak di hadapan para jago.

Suara pekikan makin lama makin bertambah nyaring, terlihat tiga buah tandu mewah muncul dari balik reruntuhan pagar kayu.
Kemudian terlihat ratusan lelaki berdandan aneh menyebar di belakang ketiga tandu itu dengan membuat posisi kipas, sedang lima ratusan lelaki berbaju hitam lainnya tersebar di kedua sisi mereka.

Bwe Si-jin dengan pakaian serba hitam serta Im Jit-koh segera tampil membuka tirai yang menutupi ketiga tandu mewah tadi, terlihat tiga siluman dari wilayah Biau sambil memeluk tubuh Su Kiau-kiau, Ni Ceng-hiang dan Un Bun melompat keluar dari balik tandu.

Ternyata mereka memang tak malu disebut siluman, biarpun sedang maju perang, tidak lupa tetap memeluk wanita cantik.
Dengan langkah genit Su Kiau-kiau segera tampil ke depan, setelah memandang sekejap kawanan jago itu, serunya, “Aduh mak, ternyata semua jago telah berkumpul di sini, hebat, hebat sekali.”

“Su-kaucu” ujar Ong Sam-kongcu lantang, “dulu mengingat kau adalah seorang wanita, umat persilatan pernah mengampuni jiwamu satu kali, seharusnya kau manfaatkan kesempatan itu untuk memperbaiki diri, kenapa malah menggerakkan pasukan lagi untuk membuat keonaran?” Su Kiau-kiau tertawa seram.

“Mengampuni nyawaku? Hehehe, pembantaian berdarah yang pernah kau lakukan di masa lampau serta siksaan batin yang kualami selama puluhan tahun, membuat hatiku benar-benar amat mendendam. Hari ini, aku akan menuntut balas terhadap kalian!”

“Dasar perempuan tak tahu diri,” Ong Sam-kongcu menghela napas panjang, “terpaksa kita harus menyelesaikan semua masalah dengan kekerasan.”

Mendengar perkataan itu, serentak para jago melolos senjata.
Siluman pertama berpekik nyaring, kawanan siluman yang berada di belakangnya serentak melolos senjata gada gigi serigala, kemudian di bawah pimpinan keenam manusia raksasa itu, mereka menyerbu dari tiga arah.

Cau-ji berdelapan dengan barisan delapan dewanya segera mengurung ketat ketiga manusia raksasa itu, pertempuran pun berlangsung amat seru, sementara tiga puluh lelaki berbaju hitam
mengepung dari luar.

Melihat itu, tiga puluh enam jago istana serentak maju mengepung orang-orang itu dari lapisan paling luar.
Di antara kilatan cahaya senjata, pertempuran sengit pun seketika berlangsung.
Meskipun jumlah orang tidak berimbang, namun para jago dari kalangan putih bertarung dengan gagah berani, mereka sudah melupakan keselamatan sendiri.
Jerit kesakitan, teriakan gusar, desingan angin tajam bergema silih berganti.
Cau-ji dengan mengandalkan pedang di tangan kanan dan pukulan di tangan kiri bertekad menyelesaikan pertarungan secepat mungkin, dia menyerang tanpa belas kasihan, tak sampai sepuluh gebrakan ketiga raksasa itu sudah dibabat kutung jadi tiga bagian.

Tiba-tiba dia mulai bersin berulang kali, sadar pihak lawan mulai menggunakan racun, segera teriaknya, “Hati-hati ada racun!”
Hawa napsu membunuhnya makin berkobar, jaring pedang pun semakin melebar.
Tak sampai setengah jam kemudian beberapa ratus orang itu secara beruntun menemui ajalnya, yang aneh tiga siluman dari wilayah Biau itu hanya tertawa seram dan sama sekali tidak mengirim orang untuk membantu.

Melihat sikap yang sangat aneh itu Ong Sam-kongcu merasa keheranan, tapi begitu mendengar teriakan Cau-ji, dia segera mengerti, rupanya pihak lawan sedang menunggu hingga lawannya mulai keracunan baru turun tangan, maka bentaknya, “Maju!”

Jauh sebelum Ong Sam-kongcu menurunkan perintah, Cau-ji sudah mendengar bisikan dari Bwe Si-jin, “Cau-ji, kau serang siluman ketiga dengan kecepatan tinggi, mari kita bekerja sama dengan Toasiok untuk melenyapkan iblis-iblis itu!”

Maka begitu mendengar perintah Ong Sam-kongcu, segera bentaknya, “Serbu!”
Dengan memimpin tujuh gadis, dia langsung menyerang tiga siluman dari wilayah Biau.
Bentakan ini disertai tenaga dalam yang amat sempurna, akibatnya kendatipun ketiga siluman tua dari wilayah Biau itu memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, tak urung tergetar juga hatinya.

Pada saat itulah mendadak Ni Ceng-hiang mencabut pisau belati dari dalam sakunya, lalu ditusukkan langsung ke jalan darah Bing-bun-hiat di tubuh siluman kedua.

Peristiwa ini terjadi sangat mendadak dan di luar dugaan, apalagi saat itu perhatian siluman kedua sedang terbelah, mimpi pun dia tak menyangka kalau Ni Ceng-hiang yang begitu binal dan menuruti semua kemauannya bisa turun tangan membokongnya.
Tak ampun lagi tusukan itu seketika bersarang telak.

Baru saja dia menjerit kesakitan, secepat kilat Ni Ceng-hiang menghadiahkan sebuah pukulan lagi ke tubuhnya.
“Kau.. baru saja ia berteriak keras, tahu-tahu napasnya sudah putus.

Pada saat itulah siluman pertama dan siluman ketiga meraung gusar, serentak mereka melancarkan pukulan dahsyat ke tubuh Ni Ceng-hiang.
Su Kiau-kiau dan Un Bun tak tinggal diam, mereka ikut mengembut juga.

Sejak memberi kisikan kepada Cau-ji, secara diam-diam Bwe Si-jin dan Im Jit-koh telah bergeser ke samping tubuh siluman ketiga, begitu melihat ada peluang, serentak mereka berdua mencabut pisau belati dan ditusukkan ke pinggul siluman ketiga.

Mendadak terdengar Ni Ceng-hiang mendengus tertahan, tubuhnya mundur dengan sempoyongan.
Siluman ketiga meraung keras, cepat tubuhnya menggelinding ke samping.
Menggunakan kesempatan itu Bwe Si-jin dan Im Jit-koh menerjang Su Kiau-kiau.

Waktu itu sebetulnya siluman pertama, Su Kiau-kiau dan Un Bun sedang mengejar Ni Cenghiang, begitu melihat Bwe Si-jin dan Im Jit-koh membokong siluman ketiga hingga terluka, mereka berdiri tertegun.

Pada saat itulah Cau-ji membentak nyaring, lalu menyerang ke depan.
Di pihak lain, kawanan jago pun sambil berusaha mengendalikan gejolak hawa murni di tubuhnya, mereka menyongsong datangnya kelima ratusan orang berbaju hitam.
Ni Ceng-hiang meski sudah terluka parah karena gencetan keempat jago lihai itu, dia tetap melanjutkan terkamannya ke arah tandu siluman pertama.

Menyaksikan hal ini, Un Bun membentak keras, satu pukulan dihantamkan ke muka.
Merasa tak mungkin menghindar lagi, sambil mengertak gigi Ni Ceng-hiang menyambut datangnya pukulan itu dengan punggungnya, menggunakan kesempatan itu dia meluncur masuk ke dalam tandu dan berusaha menemukan obat penawar racun.

Sesaat kemudian ia berhasil menemukan buli-buli berisi obat penawar racun, cepat dia menggelinding keluar dari tandu, lalu sambil mengangkat tinggi buli-buli besi itu, serunya lemah, “Obat penawar racun

Dalam keadaan tegang, Cau-ji berdelapan telah mengurung siluman pertama, Su Kiau-kiau, Bwe Si-jin, Im Jit-koh dan Un Bun di tengah arena, tapi untuk sesaat mereka tak tahu bagaimana harus bertindak.

Cau-ji mengalihkan pandangan matanya ke atas buli-buli besi itu, tiba-tiba tubuhnya menerjang ke sana.
Melihat itu, siluman pertama membentak gusar, dia siap menyusul ke tempat itu.
Sambil menggigit bibir Im Jit-koh menerkam juga ke depan, lalu menarik kaki kirinya dan sampai mati pun tak dilepas.

Siluman pertama meraung marah, satu pukulan langsung dibacokkan ke tubuhnya. “Aduuuh, …!” diiringi jerit kesakitan, Im Jit-koh tewas seketika itu juga, namun jenazahnya masih tetap memegangi kaki kiri siluman pertama, membuat gembong iblis ini tidak leluasa bergerak menghalangi Cau-ji.

Dengan satu gerakan cepat Cau-ji menyambar buli-buli besi itu, melihat siluman pertama berniat memotong sepasang lengan mayat Im Jit-koh, ia pun membentak nyaring, “Tahan!” satu tusukan kilat dilontarkan ke depan.

Sementara itu Suto bersaudara yang berhasil mencabut nyawa siluman ketiga segera menubruk ke arah siluman pertama.
Waktu itu sebetulnya kelima gadis lainnya ingin bersama-sama mengembut Su Kiau-kiau, siapa tahu Bwe Si-jin dengan tongkat berkepala ularnya sedang bertarung sengit melawan perempuan siluman itu, terpaksa mereka pun menyerang Un Bun secara bersama-sama.

Dengan kepandaian silat yang dimiliki kelima gadis itu, sesungguhnya mereka dapat mengatasi Un Bun secara mudah, namun berhubung racun yang menyerang tubuh tiga bersaudara Cu dan Siau-hong mulai bekerja, tenaga dalam mereka berkurang separoh bagian, sehingga untuk sementara waktu sukar untuk menangkan pertarungan ini.

Sambil melancarkan serangan ke arah siluman pertama, diam-diam Cau-ji memperhatikan juga keadaan di sekelilingnya.
Tampak ketiga puluh enam jago dari istana serta Thian-te-sian-lu meski berhasil melukai ratusan orang, namun karena keadaan luka yang semakin bekerja, mereka dipaksa untuk menahan diri.

Ong Sam-kongcu serta para ketua partai besar yang menyaksikan kondisi para jago makin melamban, sadarlah mereka kalau racun dalam tubuh kawanan jago itu mulai bekerja, serentak
mereka pun menerjang masuk ke dalam arena.

Biarpun begitu, korban yang berjatuhan pun semakin meningkat.
Cau-ji jadi sangat gelisah, dia membentak berulang kali, serangannya terhadap siluman pertama pun semakin gencar.
Apa daya tenaga dalam yang dimiliki siluman pertama kelewat hebat, gerakan tubuhnya pun ringan dan cekatan, untuk beberapa saat dia tak mampu berbuat banyak.

Untung saja pada saat itu Cu Bi-ih berhasil menghabisi nyawa Un Bun, segera teriaknya, “Adik Cau, lemparkan obat penawar racun itu kemari!”

Sambil berkata, dia menubruk ke depan.
Diam-diam Cau-ji menyumpahi kebodohan sendiri, cepat dia lemparkan buli-buli itu ke arah Cu Bi-ih.
Begitu melihat obat penawar sudah berada di tangan Cu Bi-ih, Bwe Si-jin segera berteriak, “Cairkan dengan air, lalu diminum!”

Merasa lega dengan keadaan para jago yang keracunan, semangat Cau-ji bangkit kembali, ia segera memberi tanda, lalu bersama Siang Ci-ing sekalian melancarkan serangan kilat ke arah siluman pertama.

Dalam pada itu siluman pertama telah berhasil lolos dari cengkeraman Im Jit-koh, sepasang tangannya segera melancarkan pukulan berulang kali, angin pukulan bagaikan amukan gelombang samudra disertai percikan bubuk beracun segera menyergap tubuh keempat orang itu.

Melihat kehebatan lawan, cepat tiga bersaudara Cu serta Siau-hong mundur ke arah ruang tengah.
“Halangi mereka!” bentak siluman pertama berulang kali.

Tapi sayang kawanan iblis itu mendapat perlawanan yang begitu gigih dari para jago sehingga terpaksa hanya bisa membiarkan para gadis mundur masuk ke dalam ruangan.

Di pihak Su Kiau-kiau, meskipun dia berhasil berada di posisi di atas angin, tapi berhubung Bwe Si-jin sangat menguasai aliran ilmu silatnya, maka untuk sesaat pun dia tak sanggup meloloskan diri.

Pertarungan berjalan makin sengit, Cau-ji dengan mengandalkan Pedang pembunuh naga dan pukulan dahsyatnya, dibantu tiga gadis yang bertarung gigih mencecar siluman pertama makin gencar.

Dalam keadaan begini, biar tenaga dalam yang dimiliki siluman pertama sangat lihai pun setelah bertarung ratusan gebrakan kemudian, lengan kirinya berhasil dihajar.
Tiga puluh jurus kemudian terdengar siluman pertama menjerit ngeri, tubuhnya hancur terhajar serangan Cau-ji hingga mampus seketika.

Tak terlukiskan rasa kaget Su Kiau-kiau mengetahui kejadian ini, sedikit gerakan tangannya melambat, seketika Bwe Si-jin berhasil melepaskan diri dari kurungannya.

Terdengar lelaki itu segera berteriak keras, “Cau-ji, aku serahkan perempuan ini kepada kalian!”
Habis berkata dia langsung menggabungkan diri dengan kawanan jago lainnya.
Pada saat itulah tampak Cu Bi-ih berempat dengan masing-masing menggotong segentong air berlarian mendekat.

Bwe Si-jin segera berseru, “Lindungi gentong air, secara bergilir ambil air pemunah racun itu!” Keempat gadis itu mengangguk dan meletakkan keempat gentong air itu jadi satu, kemudian mereka berbalik menyongsong datangnya kawanan manusia berbaju hitam yang sedang menerjang tiba.

Buru-buru para ketua partai berhamburan datang, mereka membentuk satu pagar betis untuk melindungi air berisi obat pemunah racun itu.
Begitulah secara bergilir para jago dari berbagai partai mengambil air pemunah untuk membebaskan diri dari pengaruh racun, begitu segar kembali, mereka pun segera terjun kembali ke arena pertarungan.

Pada saat itulah terdengar Su Kiau-kiau menjerit ngeri dan tewas seketika.
Sementara para iblis masih terkejut bercampur ketakutan, tiba-tiba terlihat sekilas cahaya tajam berkelebat.
Ternyata Cau-ji dengan kecepatan luar biasa telah mengejar ke arah kawanan iblis, jarring pedang yang terbentuk dari pedang pembunuh naganya menyambar kian kemari, dalam waktu singkat belasan orang kembali jadi korban.

Sebetulnya kawanan iblis itu ingin memanfaatkan kesempatan baik ini untuk menghabisi para jago, siapa tahu mereka bertemu dengan lawan tanding yang menakutkan, selang beberapa saat kemudian kembali puluhan orang jadi korban.
Tak sampai setengah jam kemudian tampak mayat berserakan di mana-mana, genangan darah pun menganak sungai.

Tujuh-delapan puluh orang iblis yang merasa tak sanggup melakukan perlawanan lagi segera mundur, entah siapa yang berteriak duluan, mendadak semuanya kabur terbirit-birit meninggalkan tempat itu.

Sebenarnya Cau-ji ingin mengejar, tiba-tiba terdengar Ong Sam-kongcu berseru, “Lepaskan mereka!”
Waktu itu para jago sehabis minum obat penawar telah pulih kembali kesehatannya,.
Sedang Bwe Si-jin tampak sedang memeluk jenazah Ni Ceng-hiang dan Im Jit-koh sambil menangis sesenggukan.

Cau-ji segera berjalan menghampiri, katanya, “Coba kalau tak ada kedua orang ini yang membantu, belum tentu dalam pertempuran hari ini kita bisa memperoleh kemenangan seperti ini.”
“Cau-ji,” ujar Bwe Si-jin dengan suara parau, “bolehkah Toasiok mengubur mereka berdua secara baik-baik?”
“Toasiok, Cau-ji yakin semua orang pasti akan menyetujui permintaanmu itu.”

Setelah memandang sekejap tumpukan mayat yang berserakan memenuhi lapangan, sambil menghela napas kata Ong Sam-kongcu, “Aai … tidak sampai empat jam ratusan nyawa telah hilang, latihan selama puluhan tahun pun menguap begitu saja … ai, apa gunanya?”

“Omitohud!” sela It-ci Taysu, “Ongya berhati mulia dan bijaksana, bila setiap orang dapat meniru suri teladanmu, dunia persilatan pasti akan aman tenteram”

Tiba-tiba terdengar Leng Bang berkata dengan nada hormat, “Ongya, boleh tahu perkawinan dari tuan putri akan diselenggarakan di mana?”

“Urusan ini biar Baginda saja yang memutuskan,” sahut Ong Sam-kongcu cepat, “tentu saja aku tak akan berebut dengan kaisar untuk menyelenggarakan pesta perkawinan ini di Perkampungan Hay-thian-it-si. Haha, aku harap sampai waktunya nanti kalian ikut menghadirinya.”

Para jago serentak mengangguk sambil tersenyum.
“Ayah” seru Cu Bi-ih malu-malu, “sewaktu meninggalkan kota raja, ayah Baginda telah memberi pernyataan, katanya sudah banyak tahun dia tak pernah mendatangi tembok besar, karena itu menggunakan kesempatan saat diselenggarakannya perkawinan Ih-ji sekalian, beliau berniat pesiar ke tembok besar!”

Begitu para jago mendengar Kaisar akan memimpin sendiri upacara perkawinan di perkampungan Hay-thian-it-si, kontan semua maju memberi selamat.

Dengan penuh kegembiraan Ong Sam-kongcu tertawa terbahak-bahak.

TAMAT

Author: 

Related Posts