Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 28

Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 28by adminon.Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 28My HEROINE [by Arczre] – Part 28 BAB VI: WORKING #PoV Hana# Kacau. Everything is a mess. Itulah yang terjadi. Black Knight entah bagaimana bisa bergerak sendiri waktu itu. Dan yang lebih parah adalah kita harus memperbaiki Hypersuitnya. Arrghh…kalau saja tidak ada Gnome-X waktu itu, entah apa yang akan terjadi kepada Han Jeong. Aku sekarang […]

tumblr_nw5yrdvxbj1usrih4o3_500 tumblr_nwb5vzLXY51ufonaso1_500 tumblr_nwcs7j98Lx1ug8llno1_540My HEROINE [by Arczre] – Part 28

BAB VI: WORKING

#PoV Hana#

Kacau. Everything is a mess. Itulah yang terjadi. Black Knight entah bagaimana bisa bergerak sendiri waktu itu. Dan yang lebih parah adalah kita harus memperbaiki Hypersuitnya. Arrghh…kalau saja tidak ada Gnome-X waktu itu, entah apa yang akan terjadi kepada Han Jeong. Aku sekarang berada di M-Tech Building. Sebab ini adalah satu-satunya tempat yang teraman sekarang. Untuk sementara tentunya. Sebab di sini juga terdapat server dan bank data dari seluruh penjuru dunia. Mau menggerebek ataupun menyerang M-Tech? Give me a break will ya? Mau jadi perang dunia?

Ada tiga negara yang secara sukarela akan membantu melindungi M-Tech, dari Amerika, Rusia, dan Inggris. Kenapa mereka? Karena ketiga negara ini menanamkan data mereka di sini. Dan sangat beruntung sekali aku menjadi keluarga Hendrajaya. Pengaruh kakek kepada semua orang benar-benar luar biasa. Walaupun kita jadi buronan, tapi aparat yang berwajib akan berpikir ribuan kali untuk menyerbu ke gedung ini.

Masalahnya lebih pelik. Presiden kita yang sekarang akan dilantik adalah musuh. Kalau dia jadi presiden, aku takut. Dia bisa menerjunkan orang-orangnya untuk menggerebek tempat ini. Argh, sial. Tinggal menunggu waktu saja sebenarnya tempat ini digerebek polisi atau pun pasukan khusus.

Setelah hancurnya monster CUMI-08, aku, papa dan Profesor Andy berada di gedung M-Tech. Yang kami lakukan adalah memperbaiki Black Knight. Bonusnya ada Ryu di sini. Kenapa juga dia ada di sini. Ah masa bodo.

Aku sudah berada di dalam gedung ini selama tiga hari dengan papa dan Profesor Andy. Sekali lagi bonus Ryu. Aku sibuk ngetik koding-koding, sibuk eksperimen, sibuk menghilangkan bug-bug. Dan……Ryu sibuk sendiri. Dia ngapain aja? Push-up, sit up, lari di treadmill, hand stand, mukul-mukul nggak jelas. Ngayunin pedang ke sana kemari sampai aku bilang, “Awas kalau sampai ngerusakin sesuatu!”

Kemana Yuda? Inilah pertanyaan yang bagus. Setelah ledakan itu, sensor GPS yang ada di tubuh Gnome-X hilang. Nggak terlihat di radar. Nggak terlihat di peta. Tapi kami masih yakin Yuda tidak apa-apa. Semuanya bersembunyi terlebih pemerintah sekarang malah menangkapi para superhero. Pemerintah membuat sebuah penjara khusus di Nusakambangan. Sebuah penjara yang khusus untuk memenjarakan orang-orang dengan kekuatan super. Penjara dengan dinding baja setebal 30 cm. Dan sepertinya itu sudah dipersiapkan sejak lama. Di sana tak ada alat komunikasi, tak ada tv, sehingga semua narapidana tak tahu ada informasi di luar sana.

Sebenarnya mereka bisa jadi sekutu yang kuat. Hanya saja musuh kita lebih kuat sekarang ini. Pemerintah kita sendiri. Damn.

Selama tiga hari ini akhirnya aku bisa menyelesaikan membersihkan bug, menambahkan patch, menambahkan API, dan sekuriti. AI-nya pun aku perkuat. Terima kasih kepada Profesor Andy, sekarang aku yakin OS Black Knight tak terkalahkan. Bahkan lebih canggih daripada sebelumnya. Aku menggeliat, kulihat ternyata sudah jam dua pagi. Papa dan Profesor Andy bekerja siang dan malam sampai-sampai aku tak pernah melihat mereka tidur nyenyak. Iya, papa tidur, tapi ketika mendapatkan ide segera ia bangkit dan melanjutkan pekerjaannya.

Beberapa kali kakek menjenguk kami di ruangan ini. Sepertinya beliau tak berani mengganggu. Hanya mencium pipiku dan memeluk ayah, setelah itu ngobrol sebentar dan pergi. Kakekku sudah lanjut, sekarang usianya sudah kepala enam. Tapi dia sangat berwibawa. Ah, Kakek. Kalau ingat kisah cintanya dulu, beliau sangat romantis orangnya. Banyak cewek takluk ama dia. Nenekku juga. Entah kenapa mereka sampai pisah. Tapi nenek bilang dia sangat mencintai kakek sebenarnya, tapi mereka tak bisa bersatu.

Aku capek, capek…capeeek….tiga hari nggak tidur.

BRUK!

Aku pun menjatuhkan diri di atas sofa dan terlelap.

*****~o~*****

“Hana?!” panggil sebuah suara.

Aku mengejak-ejapkan mata. Menggeliat. Tampak papa membangunkanku. Ternyata sudah sangat siang. Aku pake selimut ternyata, pasti papa yang menyelimutiku tadi.

“Kamu koq tidur di sini?” tanya papa.

“Yah, capek pah,” jawabku.

“Sana pergi ke kamarmu!” kata papa.

“Lho? Mana Ryu?”

“Dia keluar tadi mau jalan-jalan atau gimana gitu,” kata papa sambil menerawang.

“Papa udah selesai?” tanyaku.

“Sejujurnya tinggal sedikit sekali. Profesor Andy kerja keras beneran. Beltnya udah bisa dipake oleh Han Jeong, kami meng-upgrade beberapa sistemnya. Permasalahannya ada beberapa bahan yang kami kehabisan. Dia pembentuk Nanobot. Ini yang sulit.”

“Sulit?”

“Iya, karena bahan ini ada di dalam tempat riset LAPAN. Namanya Micro-metal.”

“Micro….metal???”

“Yup. Sebuah bijih logam kecil, logam ini mudah dibentuk dalam suhu yang tidak terlalu panas. Tahu kan Mangaan (malam)? seperti itu. Hanya saja butuh suhu cuma 100 derajat celcius saja untuk membentuk Nanobot. Kita udah ada blueprint dari nanobot, demikian juga Nano-chip-nya. Nano-board. Ah, yang penting kita butuh Micro-metal. Kalau kita tidak jadi buron, mudah sekali mengambilnya ke sana. Tapi karena kita jadi buron, keluar dari tempat ini benar-benar ide buruk.”

“Minta tolong ke Om Hiro ama Tante Moon?”

“Nggak, nggak perlu. Mereka kita mintai tolong yang lain nanti. Sekarang kita butuh ini dan aku mohon kamu deketin itu si Ryu. Bujuk dia agar pake armor Zeronya menyusup dan mengambil Micro-metalnya!”

“Haaaahhh?? Pah, ngapain aku? Papa bisa minta sendiri!”

“Nggak, kamu dari tadi tidur, lagian papa masih sibuk. Sana! Mandi trus temui Ryu!”

Aku garuk-garuk rambutku yang nggak gatal. Baiklah. Aku pun berdiri. “Tapi pa?”

Papa mendorongku, “Sudah sana! Pergi ke kamarmu, mandi trus bujuk Ryu. Ini penting!”

“Papaaaa…. kenapa harus aku?” aku cemberut.

Aku pun keluar dari ruangan karena didorong papa. Sebeeeeeelll! Papa ini nggak ngerti aja. Ngapain coba aku yang harus membujuknya? Kenapa juga harus memohon ama orang yang nggak bisa ngeja huruf L?? Huh!

Akhirnya dengan langkah gontai aku pun pergi ke kamar apartemenku 601. Sesampainya di kamar, aku segera melepaskan bajuku satu persatu. Setelah itu aku ambil handuk. Kulilitkan di tubuhku. Kupandangi dulu diriku di cermin. Hmm…boobsku nggak besar ya? Tapi pas koq. Aku lepaskan kacamataku, pandanganku sedikit buram. Ahh..apa minusku nambah ya? Kemudian kacamataku kutaruh di meja. Aku berjalan ke kamar mandi dan……ada seorang lelaki di depanku. Dia memakai handuk. Wajahnya agak buram. Hah? Lelaki? ngapain ada di kamarku??

LELAKI????? APAAAAAAA?

“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!” aku pun menjerit.

“Eh, Hana-chan, gomen! gomen! gomen!” katanya.

Ryu?? Ngapain ia di kamarku. AKu pukuli Ryu, aku ambil guling yang ada di kasur dan memukuli dia.

“Ngapain kamu ada di kamarku? Ngapain cuma pakai handuk?? DaSAR MESUUUUUMM!” gerutuku. Aku terus pukuli dia.

“Ini..ini kamarku! Kamar 610!”

“Bukan! Ini kamarku 601!” teriakku.

“Ayo kita lihat di pintu kalau ini kamarku!” Ryu membela dirinya. Emangnya aku salah lihat apa?

Akhirnya Ryu berlari membuka pintu dan menunjukkan angkanya kepadaku.

“Mite! Kore…!” ia menunjuk angkanya.

Aku mengambil kacamataku dan melihatnya. 610 Haaaah???? Lho? Perasaan tadi 601. Aku salah masuk kamar yah?? Mukaku memerah. WAduuuhhh!

“Hana, ada apa?” Han Jeong keluar dari kamarnya. Aku memang sekamar dengan Han Jeong seharusnya. Aku melihat Han Jeong. Lho??? Aku salah kamar beneran? Ah, pasti aku masih ngantuk tadi sampai salah baca angka.

“Kalian???!” Han Jeong terkejut melihatku.

Aku baru sadar kalau aku cuma pake handuk dan Ryu juga pake handuk. “KYAAAAAAAA!” aku pun langsung meninju wajah Ryu.

Oke, ini konyol insiden yang benar-benar konyol. Ryu pingsan dengan hidung berdarah akibat aku pukul. Han Jeong tertawa ngakak sedangkan aku malu setengah mati.

Singkat cerita aku mandi di kamar Han Jeong, tanpa peduli nasib Ryu yang saat itu pingsan. Jahat? Biarin. Rese’ emang dia. Eh, padahal aku yang harusnya rese’ ya? Tapikan itu kecelakaan, accident. Siapa juga yang bisa nyalahin orang tiga hari nggak tidur, dipaksa papa jalan ke kamar sempoyongan ampuuuuuunn!

Setelah mandi dan ganti baju aku nggak melihat Han Jeong. Mungkin dia di kamar Ryu. Aku segera menyusulnya. Iya benar dia ada di kamarnya Ryu, membantu Ryu yang sudah sadar. Ryu sudah pakai baju dan sekarang hidungnya disumpal kapas.

Han Jeong ketawa lagi melihatku.

“Juuungg! Awas ya, aku nggak bakal jadi operatormu lagi kalau masih ketawa!” sebel aku.

“Hahahaha, biarin pembalasan! Kamu sih seenaknya ngerekam ciumanku ama Yuda. Weeekkk!” Han Jeong menjulurkan lidahnya.

Aku lihat Ryu kepalanya mendongak agar darahnya cepat berhenti. “Hana-chan gomen!” ia minta maaf lagi. Sebeeeell!

“Aku tinggal dulu ya,” kata Han Jeong. Kemudian dia meninggalkan kami berdua.

Melihat wajah Ryu sekarang aku jadi kasihan. Toh itu tadi bukan sepenuhnya salah Ryu. Aku yang salah. Begooooooo! Iya aku cewek terbego yang pernah ada. Dan sekarang aku berdiri di hadapan cowok hentai ini. Apalagi papaku menyuruhku untuk minta tolong kepada pemuda hentai ini. Ryu masih duduk di atas ranjangnya sambil kepalanya mendongak. Sampai kapan ia begitu terus?

Aku pun jadi nggak enak, salah tingkah sendiri, “Ryu-kun…aku…aku…,” naah kan cewek begonya kumat. Ngomong aja susah.

“Kenapa?” tanyanya.

“Jalan-jalan yuk?!” begoooooo!

“Kita jadi buronan, mau jalan-jalan ke mana?”

“Ke mall sini aja, nggak usah ke mana-mana. Kan di lantai 20 ada mall juga tuh di sini.”

“Errr….!” Ryu menunjuk hidungnya.

“Iya, iya aku minta maaf. Habisnya siapa yang nggak panik ngelihat cowok cuma pake handuk??!”

Ryu pun berdiri. Ia kemudian membuang tissue yang ada di hidungnya ke tong sampah yang ada di pojok ruangan. Aku tiba-tiba digeret olehnya. Apaan sih ni orang?

“Ryu-kun, aku jangan digeret dong!” kataku. Ia langsung melepas pegangannya membuatku bete banget ama tingkah polahnya ini.

“Gomen, Sakura-chan. Eh, Hana-chan,” ia menggaruk-garuk kepalanya lagi.

Kami pun turun ke lantai 20 dengan menggunakan lift. Aku penasaran sebenarnya dengan nama Sakura. Kenapa Ryu-kun terkadang memanggilku dengan nama Sakura.

“Ryu, siapa sih Sakura itu?” tanyaku. “Ceritain dong. Sebegitu miripnyakah aku dengannya?”

“Hmm…sejujurnya iya. Kamu ingin tahu? Aku punya fotonya.”

“Boleh,” kataku.

Ryu mengambil ponselnya dan membuka sebuah file, kemudian ia menunjukkannya kepadaku. Ehh?? Beneran. Aku bisa melihat seorang gadis rambutnya panjang, dikuncir, membawa sebuah katana dengan pose dua jari, tersenyum sampai giginya kelihatan. Bener-bener mirip aku. Eh, padahal aku nggak punya gen orang Jepang kan?

“Ini Sakura-chan…”

“Gomen, menunjukkan ini kepadamu,” kata Ryu.

“Justru aku kaget Ryu, dia mirip banget ya ama aku? Kamu punya hubungan khusus?”

Ryu mengangguk. “Aku orang yang tak pernah bisa mengarahkannya dalam pertarungan pedang.”

“Oh, rival?”

“Juga seorang kekasih.”

“Hmm…begitu ya. Maaf kalau aku mengingatkanmu kepadanya. Tapi ya bagaimana lagi, wajahku nggak bisa diubah sih.”

Lift pun terbuka, kami keluar dari lift. Di sini dua lantai menjadi mall. Gedung M-Tech Mobile ini benar-benar luar biasa. Selain kantor, apartemen, bank data dan tempat server. Gedung ini juga ada mallnya. Yah, aku tak heran sih. Pemasukannya dari mana-mana, apalagi perusahaannya sebagian besar sudah go public. Dari mulai teknologi, perusahaan dagang, grosir swalayan, hingga perusahaan properti dibabat habis oleh Hendrajaya Group. Tapi untunglah aku tak sombong, cakep lagi. Hihihihi

“Aku laper nih, makan dulu yuk!” ajakku.

Kami pun akhirnya menuju ke sebuah kafe yang makanannya paling enak di mall ini. So, hari itu aku mulai tanya-tanya tentang Ryu. Tentang dirinya, tentang masa lalunya. Ryu ngobrol banyak. Bahkan dari sinilah aku tahu Ryu itu orangnya sebenarnya baik, walaupun culun, dan sedikit bego. Ryu ternyata adalah seorang pewaris sebuah ilmu pedang mirip Yuda. Namanya Kaze no Ryu alias naga angin.

Ryu pun bercerita tentang Sakura. Dia pernah menjalin hubungan dengan Sakura tapi tak lama. Awalnya mereka adalah rival hingga Ryu mengetahui bahwa Sakura adalah pujaan hatinya. Tapi sayang perjumpaannya dengan Sakura cukup singkat. Aku yaa…sedih juga sih waktu dia cerita menemani Sakura di saat-saat terakhirnya. Untung aku habis makan waktu itu. Jadi air matanya nggak kemana-mana. Gila deh, sampe mewek.

“Ah, tega sekali kamu, bikin aku mewek!” gerutuku.

“Yaah…maaf,” katanya.

Aku mengambil tissue dan menghapus air mataku. Ryu sudah menghabiskan makannya. Setelah itu ia pun diam. Menyaksikan orang-orang yang lalu lalang. Tumben aja ia nggak bawa pedangnya. Mungkin karena merasa nyaman aja ya.

“Tumben nggak bawa pedang,” kataku.

“Iya, aku taruh di kamar. Aku bisa minta torong nggak?”

“Apa?”

“Aku ingin mengupgrade Zero. Apa profesor Andy bisa melakukannya?”

“Hmm…,” wah kesempatan nih. “Bisa mungkin. Tapi…sebenarnya begini Ryu. Papa dan Profesor Andy membutuhkan sesuatu, mereka ingin minta bantuanmu untuk mengambil sesuatu yang namanya Micro-Metal. Nah, Micro-Metal ini ada di LAPAN. Karena kita buron, tak mungkin kita masuk ke sana. Mereka minta bantuanmu untuk menyusup ke sana.”

“OK,” jawabnya tanpa mikir.

“Hah?”

“Aku bisa, aku setuju. Tapi bisa kan Profesor mengupgrade Zeroku?”

Aku tersenyum. “Bisa mungkin. Arigatou Ryu-kun!”

Kami pun selesai sarapan dan kembali ke atas. Ada yang berbeda dengan Ryu hari ini. Dia lebih banyak bicara dan berusaha mengeja dengan benar. Bahasa Indonesianya juga mulai lancar. Dan kami pun naik lift, hanya saja di lift ini semua berbeda. Aku menekan tombol lantai 60. Ryu terasa lebih tinggi kukira, dia tersenyum kepadaku dan…hei. Aku dipepetnya. Mau apa dia?

Ia mengangkat daguku. Dan oh tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkk! Dia menciumku. No no no no no, dia merebut ciuman pertamaku. Aku dorong dia.

“Apa-apaan itu tadi? Dasar Hentaaaaiii!” aku gebuki dia.

“Maaf Hana-chan, maaf!” katanya. Aku tak peduli. Aku terus gebuki dia.

“Dasar mesum, hentai, echi! Kamu telah mencuri ciuman pertamaku!” aku terus menggebuki dia.

“Tapi aku suka ama kamu Hana-chan, daisuki!” katanya.

Untuk sesaat aku menghentikan seranganku. Ia menampakkan wajahnya. Aku pun menghadiahkan tendangan tepat ke wajahnya. BUAKK! Dia pun langsung ambruk dengan hidung berdarah lagi. Lift pun terbuka.

“Dasar HENTAI!” aku lalu keluar dari lift, sementara Ryu masih mengaduh-aduh di lantai lift.

“Hana-chaaann!…,” dia merintih. Bodo ah….dasar hentai.

Aku pun kembali ke kamarku. Kali ini aku yakin kalau kamar yang aku masuki adalah kamarku karena Han Jeong ada di dalamnya. Ia tampak sedang sibuk berlatih silat. Duh, apa nggak ada ya orang yang wajar di tempat ini. Yang cewek bisa silat dan kini nendang-nendang nggak jelas. Sama kaya’ Ryu. Aku langsung merebahkan diri di atas ranjang.

“Kenapa?” tanya Han Jeong.

“Itu Ryu, rese’ banget.”

“Rese’nya gimana?”

“Ngambil kesempatan di dalam lift, aku hajar deh dia. Hidungnya berdarah lagi.”

“Hahahaahhaha,” yeee…malah ketawa Han Jeong.

“Jung, koq ketawa sih?” aku cemberut.

“Rasain tuh, salahnya sendiri dulu ngerekam aku ama Yuda. Kena batunya sekarang. Eh, ada video cctv di liftkan? Aku mau minta ama sekuriti ah!” kata Han Jeong, ia lalu berlari keluar kamar.

Oh iya! Gawaaaatt. Aku lari mengejar Han Jeong, “Juungg! Aaarggh…awass lu ya! Jangaaaann!”

Terjadilah aksi kejar-kejaran. Tapi yah, aku kan nggak bisa lari. Akhirnya dia menang. Sampai di ruangan sekuriti. Aku pun hanya berjalan-jalan saja. Nggak kuat lari. Nafasku ngos-ngosan. Ruangan sekuriti ada di lantai satu. Dan aku lihat Han Jeong sudah masuk lift. Waduuuhh….Aku pun hanya lemas duduk di depan lift. Aargghh…Han Jeong jahat. Aku pun menangis.

Setelah itu ada seseorang yang berdiri di sampingku. Aku mendongak ke atas. Itu adalah Ryu dengan hidung yang disumbat tissue. Ah, udahlah. Aku nggak punya tenaga buat berdiri apalagi menghajar dia.

“Perrrlllu bantuan?”

“Nggak, pergi sana dasar Hentai.”

“Maaf, aku memang salllah…,” Ryu pun ikut duduk di sebelahku. Ngapain juga sih?

“Mau aku tonjok lagi?”

“Nggak, ampuuunn!” katanya sambil melindungi dirinya.

“Rese’, tahu nggak kamu? Rese’!”

“Hana-chan, aku tahu kamu kaget. Tapi sejujurnya, semenjak pertama karlli melrrlihatmu aku merlllihat sosok Sakura di dalrlam dirimu. Karlian sangat mirip, aku tahu aku sarlrlah. Tapi….apakah aku tak bisa mencoba untuk menyukaimu?”

Aku jadi berdebar-debar gini mendengar kata-katanya. Ia lalu memelukku. Ehh…mau apa dia? Aku pun diangkatnya, ternyata ia membantuku berdiri. Karena aku lelah, tubuhku otomatis ambruk ke dirinya. Eh, ini bukan berarti aku mau dipeluk ya. Nggak mau, aku cuma capek aja. Habis ngos-ngoss……………..aaaaaaakkkkkk…..aku diciumnya lagi. Mentang-mentang aku lagi lemes dia ambil kesempatan.

Papaaa…..aku diperkosa papa…huuuuuu…huaaaa. Mamaaaa……tolong mamaaaa….. Han Jeong, tonjokin orang ini donngg! Ciuman pertamaku dicurinya. Ciumanku yang harusnya buat orang yang aku suka…..hikss…

Lama juga kami berciuman sampai rasanya bibirku ngilu. Aku pun bersandar di dada Ryu. Mau melawan juga percuma, tenagaku habis. Aku bisa dengar debar jantung Ryu. Mungkin reflek kali ya, atau memang aku nggak bisa berdiri lagi, aku jadi malah seakan-akan memeluk Ryu. Kenapa jadi begini?

“Aku nggak mau dicium ama kamu!…Dasar hentai,” kataku.

“Aku tahu, maaf ya,” katanya.

“Dasar, seenaknya nyium anak orang, aku aduin ke mama nanti!” kataku.

“Aku siap koq, sekarrlipun dihajar orang banyak aku tetap akan menciummu, Hana-chan.”

(bersambung………….)

Author: 

Related Posts